I. PENDAHULUAN
Hari akhirat, hari setelah kematian yang wajib diyakini kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna, hari ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia, hari yang pada waktu itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata dengan penuh penyesalan:
ãAqà)tƒ ÓÍ_tGøŠn=»tƒ àMøB£‰s% ’ÎA$u‹ptÎ: ÇËÍÈ
“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS Al Fajr:24).
Oleh karena itu kita sebagai manusia wajib berbuat segala yang di Ridhai oleh Allah SWT, karena kehidupan di dunia ini ialah semata-mata hanya untuk jalan menuju ke akhirat/kehidupan dunia ini ialah sarana penyebrang menuju akhirat.
II. RUMUSAN MASALAH
a. Pengertian akhirat
b. Nilai-nilai dalam akhirat
c. Tahap-tahap kehidupan akhirat
d. Balasan di Surga dan neraka
III. PEMBAHASAN
a. Pengertian akhirat
Kata akhirat berasal dari kata “al-akhirah” yang terambil dari kata “akhir” yang mengandung arti sesuatu yang bukan sekarang, masih jauh. Para ulama sepakat bahwa yang dinamakan akhirat disini ialah kehidupan esok yang diharapkan, yaitu dimana kehidupannya lebih baik dari pada kehidupan di dunia. Dalam Allah berfirman dalam QS.ad-Dhuha 4 :
äotÅzEzs9ur ׎öy{ y7©9 z`ÏB 4’n<rW{$# ÇÍÈ
“Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Penulis cenderung memahami kata akhirat disini dalam pengertian masa datang dalam kehidupan dunia, dan agar seorang manusia dapat mengikuti sosok Nabi Muhammad saw, karena Allah akan menjajikan kesudahan yang baik untuknya. Allah berfirman dalam QS.al-Qashash 83 :
y7ù=Ï? â‘#¤$!$# äotÅzFy$# $ygè=yèøgwU tûïÏ%©#Ï9 Ÿw tbr߉ƒÌム#vqè=ãæ ’Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur #YŠ$|¡sù 4 èpt7É)»yèø9$#ur tûüÉ)FßJù=Ï9 ÇÑÌÈ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.[1]
b. Nilai-nilai dalam akhirat
Dalam al-Qur’an banyak perbandingan-perbandingan bernilai yang belum kita ketahui semua, akan saya beri contoh satu yaitu bahwa kehidupan di akhirat itu lebih bernilai atau lebih baik dari pada kehidupan di dunia. Allah berfirman dalam QS.al’Ala 17 :
äotÅzFy$#ur ׎öyz #’s+ö/r&ur ÇÊÐÈ
“ Sedang (kehidupan) akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.
Kata “KHAIR” yang berarti lebih baik dan “ABQA” yang berarti kekal keduanya berbentuk superlatif. Ini mememberi kesan perbandingan dengan kehidupan duniawi, bahwa akhirat lebih baik dan kekal dibanding dengan kenikmatan duniawi. Ini berarti bahwa kenikmatan dunia pun mempunyai segi kebaikan, namn kehidupan di akhirat kelak, jauh lebih baik dan lebih kekal.[2]
Akhirat lebih baik karena : 1) yang baka itu lebih baik daripada yang fana. Jika yang ada di dunia ini terbatas waktunya atau sementara, maka kehidupan di akhirat tidak memiliki batas waktu yakni abadi. Seperti dalam firman Allah :
ãA$yJø9$# tbqãZt6ø9$#ur èpuZƒÎ— Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( àM»uŠÉ)»t7ø9$#ur àM»ysÎ=»¢Á9$# îŽöyz y‰ZÏã y7În/u‘ $\/#uqrO îŽöyzur WxtBr& ÇÍÏÈ
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.
2) Kebaikan yang sesungguhnya dan murni adalah lebih mulia dari pada kebaikan yang kelihatan dan semu. Di dunia rasa senang dan sakit bercampur. Sedangkan di akhirat semuanya murni. 3) Di dunia semuanya bisa menipu, terlihat baik di mata, tapi sebenarnya tidak. Sedangkan akhirat menampakkan realitas. Jadi, walaupun dunia dan akhirat sama-sama memiliki nilai-nilai, tetapi menurut pandangan Allah nilai akhirat lebih baik dari pada dunia.[3]
c. Tahap-tahap kehidupan akhirat
akhirat di bagi dalam beberapa tahapan, semuanya terjadi setelah kehidupan saat ini. Tahapan ini mengikuti urutan yang nampak teratur : kematian, kebangkitan kembali, pengadilan, dan terakhir, surga dan neraka.
a. Kematian
Kematian adalah pengalaman pertama yang tidak bisa dielakkan oleh setiap makhluk tanpa membedakan gender, kelas, bangsa, atau masa hidupnya. Inilah tahap pertama kehidupan akhirat untuk setiap insan dan untuk masuk kea lam akhirat tersebut. Dalam QS.al-Imran 185 :
‘@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2u‘qã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# (`yJsù yyÌ“ômã— Ç`tã Í‘$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ô‰s)sù y—$sù 3$tBur äo4quŠyÛø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ßì»tFtB Í‘rãäóø9$# ÇÊÑÎÈ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
b. Kebangkitan
Kebangkitan adalah babak pertama dari alam akhirat yang dulu bangsa Arab belum mengetahui atau mempercayai kebangkitan tersebut. Kebangkitan ialah dimana setelah kematian akan dibangkikatkan/dihidupkan kembali jiwa-jiwa manusia demi mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dalam QS.al-Jatsiiyat 26 :
È@è% ª!$# ö/ä3‹ÍŠøtä† §NèO óOä3çF‹ÏJム§NèO ö/ä3ãèyJøgs† 4’n<Î) ÇPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ÏmŠÏù £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqçHs>ôètƒ ÇËÏÈ
“Katakanlah: "Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[4]
c. Pengadilan
Kehidupan di dunia digambarkan dalam al-Qur’an sebagai cobaan atau ujian untuk melihat nilai dari perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang. Dan dalam pengadilan yang diadakan oleh Allah ini, kita semua akan mengetahui apa yang dulu disembunyikan dan apa yang nyata. Dalam QS.yunus 61 :
$tBur ãbqä3s? ’Îû 5bù'x© $tBur (#qè=÷Gs? çm÷ZÏB `ÏB 5b#uäöè% Ÿwur tbqè=yJ÷ès? ô`ÏB @@yJtã žwÎ) $¨Zà2 ö/ä3ø‹n=tæ #·Šqåkà øŒÎ) tbqàÒ‹Ïÿè? Ïm‹Ïù 4$tBur Ü>â“÷ètƒ `tã y7Îi/¢‘ `ÏB ÉA$s)÷WÏiB ;o§‘sŒ †Îû ÇÚö‘F{$# Ÿwur ’Îû Ïä!$yJ¡¡9$# Iwur ttóô¹r& `ÏB y7Ï9ºsŒ Iwur uŽy9ø.r& žwÎ) ’Îû 5=»tGÏ. AûüÎ7•B ÇÏÊÈ
“Kamu tidak berada dalam suatu Keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.[5]
d. Balasan di Surga dan Neraka
Adanya surga (al-Jannah) dan neraka (an-Naar) adalah perkara-perkara yang ghaib, yang keberadaannya sudah kita percayai selaku orang-orang beriman.
Allah menciptakan surga adalah merupakan tempat kediaman yang menyenangkan dan menggembirakan bagi orang-orang yang beriman, bertakwa dan beramal shaleh. Atau dengan kata lain surga itu hanya berhak untuk ditempati hamba-hamba Allah yang taat kepada-Nya, sebagai balasan kepada mereka atas keimanan yang jujur dan benar serta amal perbuatannya yang shaleh. Allah berfirman dalam QS.al-kahfi 107-108 :
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ôMtR%x. öNçlm; àM»¨Zy_ Ĩ÷ryŠöÏÿø9$# »wâ“çR ÇÊÉÐÈ tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù Ÿw tbqäóö7tƒ $pk÷]tã ZwuqÏm ÇÊÉÑÈ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya”.
Dan dalam QS.at-Taubah 72 :
y‰tãur ª!$# šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur ;M»¨Zy_ “ÌøgrB `ÏB $ygÏGøtrB ã»yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù z`Å3»|¡tBur Zpt6ÍhŠsÛ †Îû ÏM»¨Zy_ 5bô‰tã 4 ×bºuqôÊÍ‘ur šÆÏiB «!$# çŽt9ò2r& 4 y7Ï9ºsŒ uqèd ã—öqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$# ÇÐËÈ
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”.
Inilah suatu balasan Allah kepada kita berupa surga firdaus, yang semua itu di dapatkan atas segala sesuatu dari perbuatan kita di dunia, dan sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya.[6]
Allah menciptakan neraka adalah merupakan tempat kediaman yang menyengsarakan bagi orang-orang yang munafik, ingkar yang tidak patuh kepada peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh Allah. Atau dengan kata lain neraka itu ditempati oleh orang-orang yang ingkar kepada Allah sebagai balasan kepada mereka atas keingkaran dan kefakirannya.[7]
Bagi orang yang di neraka, mereka akan dijaga oleh allah dari kematian, walaupun azab neraka itu mematikan. Allah SWT berfirman dalam QS. at-Taubah 68 :
y‰tãur ª!$# šúüÉ)Ïÿ»oYßJø9$# ÏM»s)Ïÿ»oYßJø9$#ur u‘$¤ÿä3ø9$#ur u‘$tR tL©èygy_ tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù 4 }‘Ïd óOßgç6ó¡ym 4 ÞOßguZyès9ur ª!$# ( óOßgs9ur Ò>#x‹tã ×LìÉ)•B ÇÏÑÈ
“Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal”.
Dan dalam QS. az-Zumar 72 :
Ÿ@ŠÏ% (#þqè=äz÷Š$# z>ºuqö/r& zO¨Yygy_ tûïÏ$Î#»yz $ygŠÏù ( }§ø©Î7sù “uq÷WtB šúïÎŽÉi9x6tGßJø9$# ÇÐËÈ
“Dikatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya" Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”.[8]
IV. KESIMPULAN
Kata akhirat berasal dari kata “al-akhirah” yang terambil dari kata “akhir” yang mengandung arti sesuatu yang bukan sekarang, masih jauh. Para ulama sepakat bahwa yang dinamakan akhirat disini ialah kehidupan esok yang diharapkan, yaitu dimana kehidupannya lebih baik dari pada kehidupan di dunia. Bagi orang yang ingin melihat/mengetahui akhirat harus melalui tahapan-tahapan yang tersebut dia atas tadi, dan bagi manusia yang hidup di dunia dengan perbuatan baik yang di Ridhoi oleh Allah, Surga lah yang akan ia terima. Dan jika manusia tersebut ingkar kepada Allah, maka neraka lah balasannya, yang di dalamnya terdapat siksaan-siksaan yang sangat pedih.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, Di sini kami hanya berusaha menjelaskan pengetahuan sejauh yang kami. miliki. Kami menyadari akan banyaknya kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Dan kami tidak menutup kemungkinan untuk menerima saran; dan kritik yang bersifat membangun dari anda semua. Demi kesempurnaan makalah-makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amiiiinnnn.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’anul Karim
M.Quraish Shihab, “Tafsir Al-Mishbah vol 15”, Jakarta, Lentera Hati, 2005
Amina Wadud, “Qur’an Menurut Perempuan”, Jakarta, PT Serambi Ilmu Semesta, 2001
Ust. Mahfud Ahnan,dkk, “Berita Alam ghaib dan Proses padang Mashar (akhirat)”, Surabaya, Terbit Terang, 1998
Suyadi, “Terpelanting dari Shiratal Mustaqim”, Yogyakarta, Diva press, 2009
[6] Ust. Mahfud Ahnan,dkk, “Berita Alam ghaib dan Proses padang Mashar (akhirat)”, Surabaya, Terbit Terang, 1998
0 comments:
Post a Comment