A. PENDAHULUAN
Ibnu Bajah adalah filosof islam barat yang pertama mempelajari secara mendalam filsafat Al-Farabi da Aristoteles. Ibnu Rusydi nanti mengenal Al-Farabi dan Aristoteles adalah melalui karangan-karangan Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail.
Berbicara mengenai soal akal, Ibnu Bajah mengatakan bahwa akal sebagai daya berfikir adalah sumber dari semua pekerjaan manusia. Ahli-ahli filsafat umumnya menganggap akal serupa dengan jiwa. Roh dibagi dalam tiga jiwa yaitu jiwa akali untuk berfikir, jiwa nabati untuk menggerakan dan jiwa hawani untuk merasakan dan mengindera.
Dalam hal ini kita ingat teori Al-Farabi/Aristoteles tentang anima-vegetatif, anima-sesitif dan anima-intelktualis yang mana ketiga-tiganya meupakan kesatuan rohani manusia. Akal merupakan segi rohani manusia yang melebihkan derajatnya dari pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Dalam kitabnya Risalatul Wada, Ibnu Bajah menjelaskan bahwa manusia dengan berfikir sendiri (berfilsafat) akan sanggup memahami (ma’rifat) tentang akal yang tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ibnu Bajah memberikan komentar atas filafat Aristoteles dan menentang pendapat Al-Ghazali tentang filsafat. Bak Ibnu Bajah maupun Ibnu Thufail karangan filsafatnya tidak sebanyak karangan Ibnu Rusydi. Karena itu pula ternyata filsafat Ibnu Rusydi lebih banyak diketahui orang daripada kedua gurunya itu. Umumnya pendapat Ibnu Bajah sejajar dengan Ibnu Thufail tentang pentingnya faktor akal manusia.[1]
B. RUMUSAN MASALAH
A. Riwayat Hidup Ibnu Bajah
B. Karya-karyanya, dan
C. Pemikiran-pemikirannya
C. PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup Ibnu Bajah
Dalam suasana perkembangan ilmu seperti tersebut diatas munculah seorang filosof Andalus bernama Abu Bakar Muhammad bin Yahya Ibnu Bajah, terkenal dengan nama julukan Ibnul-Sha’igh (Anak Tukang Emas, di Eropa yang terkenal dengan nama Avenpace). Ia lahir dalam abad ke-5 dan wafat pada tahun 533H/1138M. Tanggal kelahirannya tidak diketahui orang. Ia berkecimpung dalam dunia politik dan selama dua puluh tahun bekerja sebagai penguasa daerah Granada dan Saragoza di bawah Yusuf Al-Murabithi (raja daulat Al-Murabuthin, Yusuf). Setelah itu ia pergi ke fez (di Maroko) dan wafat disana karena di racun musuh-musuhnya yang menuduhnya telah menjadi kafir. Demikianlah yang dikatakan oleh Al-Fath Ibnu Khaqan yang menganggap Ibnu Bajah sebagai filosof penganut aliran Ta’thil (Aliran ilsafat yang mengingkari sifat-sifat dan af’al Tuhan). Kata Al-Fath : “Ibnu Bajah lebih mengutamakan buku-buu pelajaran, selalu memikirkan planet-planet d cakrawala dan batas-batas perubahan musim serta menolak kitab Allah Yang Maha Bijaksana dst”.
Selama hidup Ibnu Bajah mendalam ilmu alam, ilmu matematika, ilmu astronomi, dan musik. Ia banyak menulis uraian dan penjelasan tentang filsafat Aristoteles, dengan demikian ia membuka pintu bagi Ibnu Rusydi. Dari buku-buku Ibnu Bajah, Ibnu Rusyd banyak mengambil intisari pemikirannya bahkan dalam batas-batas tertentu ia terpengaruh olehnya.
Ibnu Thufail memuji Ibnu Bajah dengan pernyataannya :”Di kalangan para filosof zaman belakangan, Ibnu Bajah adalah paling cerdas pikirannya, paling tepat pandangannya dan paling benar pendapatnya”. Akan tetapi, katanya lebih lanjut “ia berkecimpung didalam soal-soal keduniaan. Hingga ia wafat, semua perbendaharaan ilmunya dan simpanan hikmahnya (filsafatnya) belum sempat diterbitkan. Sebagian besar buku-buku yang ditulisnya tidak lengkap dan beberapa bagian akhirnya hilang dan rusak, seperti bukunya Fin-Nafsi(tentang jiwa) dan Tadbirul Mutawahhid.
Pernyataan Ibnu Thufail memang benar, Ibnu Bajah tidak sempat menulis buku filsafat. Tidak seperti Ibnu Sina, sekalipun ia sibuk bekerja sebagai Wazir, namun ia sanggup menyelesaikan dua buah bukunya yang terbesar, yaitu Asy-Syfia dan Al-Qanun. Ibnu Bajah masih beruntung karena buku-bukunya Tadbirul Mutawahhid, Fin-Nafsidan Rislatul Ittishal telah selesai dicetak. Risalah-risalahya yang lain masih berupa tulisan tangan dan belum diterbitkan.
Ibnu Bajah memang mengikuti filsafat Yunani, terutama pendapat Phytagoras yang menggolongkan manusia menjadi dua golongan, yaitu : kaum Awam (Al-Jumhur) dan kaum Khawas (an-Naudzar). Menurut plato, golongan kedua itu harus dipimpin oleh seorang filosof. Islam tidak memandang seseorang lebih utama daripada yang lain kecuali atas dasar besar takwanya kepada Allah.[2]
B. Karya-Karya Ibnu Bajah
Ibnu Bajah banyak menghasilkan karya dalam berbagai bidang, karya asal Ibnu Bajah ditulis dalam bahasa Arab dan diterjemahkan kedalam bahasa Hebrew dan Latin. Manuskrip asal dan terjemahannya tersimpan di perpustakaan Bodlein, perpustakaan Berlin dan perpustakaan Escurial (Spanyol).
Beberapa hasil karya Ibnu Bajah adalah sbb :
1. Filsafat al-Wada, berisi tentang ilmu pengobatan
2. Tardiyyan berisi tentang syair pujian
3. Kitab An-Nafs berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa arab atau berisi tentang kegemaran Ibnu Bajah, yakni pemusatan dalam batas persatuan jiwa manusia dengan Tuhan, sebagai aktifitas manusia yang tertinggi dan kebahagiaan yang tertinggi, yang merupakan akhir dari wujud manusia.
4. Tadbir Al-Mutawahhid, rezim satu orang
5. Risalah-risalah Ibnu Bajah yang berisi tentang penjelasan atas risalah-risalah Al-Farabi dalam masalah Logika
6. Karya-karya yang disunting oleh asin Palacis dengan tejemahan bahasa spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan :
a. Kitab al-Nabat, al-Andalus jilid V 1940
b. Risalah ittishal al-Aql bil insan, al-Andalus jilid VII, 1942
c. Risalah al-Wada, al-Andalus, jilid VIII, 1943
d. Tadbir al-Mutawahhid, dengan judul el-Regimen del solitairo, 1946
7. Majalah al-Majama’ al-Ilm al-Arabi.[3]
C. Pemikiran Ibnu Bajah
1. Epistimologi
Manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan aal fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuasaan insaniah, bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukn masyarakat. Masyarakat bisa melumpuhkan daya kemampuan berfikir perseorangan dan menghalanginya untuk mencapai kesempurnaan.
Pengetahuan yang didapatkan lewat akal, akan membangun kepribadian seseorang.[4]
Akal mendapatkan objk-objek pengetahuan yang disebut hal-hal yang dapat diserap dari unsur imajinatif, dan memberikan sejumlah objekpengeahuan lain kepada unsur imajnatif. Hal yang paling mencengangkan pada unsur imajinatif adalah keterhubungan dengan wahyu dan ramalan. Ibnu Bajah juga menandaskan bahwa Tuhan memanifestasikan pengetahuan dn perbuatan kepada makhluk-makhluknya. Metode yang diajukan Ibnu Bajah adalah perpaduan perasaan dan akal dalam masalah pengetahuan fakta ia mempergunakan metode rasional empiris,tetapi mengenai kebenaran aan keberadaan Tuhan ia mempergunakan filsafat. Kbenaran itu sendir dapat diperoleh manusia apabila manusia menyendiri (uzlah). Menurut Ibnu Bajah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji objek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki objek yang dibuat diluar Ruh dengan menggerakkan organ-organ tubuh.[5]
2. Metafisika
Menurut Ibnu Bajah segala yang wujud terbagi dua : bergerak dan tidak bergerak. Yang bergerak itu adalah materi yang sifatnya terbatas dan sebab gerakannya berasal dari kekuatan yang tidak terbatas, yaitu akal. Untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, Bnu Bajah menganjurkan untuk melakukan tiga hal, yaitu = (1) membuat lidah kita selalu mengingat Tuhan dan makhluknya. (2) membuat organ-organ tubuh kita bertindak sesuai dengan wawasan hati. (3) meghindari segala yag membuat kita lalai mengingat Tuhan.
3. Moral
Ibnu Bajah mengelompokkan perbuatan manusia kepada perbuatan hewani dan perbuatan manusiawi. Perbuatan hewani adalah perbuatan yang didorong oleh motif naluri atau ha-hal lain yang berhubungan dengannya. Sedangkan [erbuatan manusiawi adalah prbuatan yan didasarkan akal budi, timbul karena adanya pemikiran yang lurus. Dalam upaya mencari klasifikasi, apakah suatu perbuatan itu bersifat hewani atau manusiawi, perlu memiliki spekulasi disamping kemauan. Dari sifat spekulasi dan kemauan ini kemudian Ibnu Bajah membagi kebajikan menjadi dua jenis yakni kebajikan formal dan kebajikan spekulatif. Kebajikan formal merupakan sifat yang dibawa sejak lahir tanpa adanya pengaruh kemauan atau spekulasi. Sedangkan kebajikan spekulatif didasarkan pada kemauan bebas dan spekulasi. Menurut Ibnu Bajah, hanya orang yang bekerja dibawah pengaruh pikiran dan keadilan semata-mata, dan tidak ada hubungannya dengan segi hewani padanya, itu saja yang bisa dihargai perbuatanannya dan bisa disebut orang langit jika segi hewani tunduk kepada ketinggian kepada segi kemanusiaan, maka seseorang menjadi manusia dengan tidak ada kekurangannya kaena kekurangan ini timbul disebabkan ketundukan kepada naluri.[6]
4. Jiwa
Pembasan terhadap jiwa, Ibnu Bajah mendasarkan pada fisika. Jiwa dianggap sabagai pernyataan pertama dalam tubuh alamiah dan teratur yang bersifat nutritif (mengandung zat-zat untuk badan), sesitif (kepekean), dan imajinatif(rasional). Jiwa yang berhasrat itu terdiri dari tiga unsur yaitu: hasrat imajinatif, hasrat menengah, dan hasrat berbicara. Jiwa yang berharsat menghendaki suatu objek yang kekal. Kehendak ini di sebut kesenangan dan tiadanya kehendak merupakan kejemuan dan kesakitan. Kehendak bukan merupan suatu yang miliki oleh manusia. Siapapun yang bertidak sesuatu atas dasar kehendak dianggap telah bertindak atas dasar gagasan gagasan.
5. Politik
Dia menerima pendapat Al-Farabi yang membagi negara menjadi negara sempurna dan negara tidak sempurna. Dia juga setuju dengan Al-Farabi yang beranggapn bahwa indifidu yang berbeda dari sebuah bangsa yang memiki watak yang berbeda pula, sebagian mereka lebih suka memerintah dan sebagian lain lebih suka di perintah. Tapi Ibnu Bajah memberikan tambahan bahwasanya seorang mutawahhid sekalipun, harus senantiasa berhubungan dengan masyarakat.[7]
6. Tasawuf
Ibnu Bajah mengagumi Al-Ghazali dan menyatakan bahwa metode Al-Ghazali memampukan orang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, dan bahwa merode ini didasarkan pada ajaran-ajaran Nabi suci. Sang sufi menerima cahaya didalam hatinya. Ibnu Bajah menjunjug tinggi para wali Allah (Auliya’ Allah) dan menempatkan mereka dibawah para Nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniah belaka, mereka berada ditingkat paling bawah dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas, kelompok ini sangat langka.[8]
D. KESIMPULAN
Abu Bakar Muhammad bin Yahya Ibnu Bajah, terkenal dengan nama julukan Ibnul-Sha’igh (Anak Tukang Emas, di Eropa yang terkenal dengan nama Avenpace). Ia lahir dalam abad ke-5 dan wafat pada tahun 533H/1138M. Tanggal kelahirannya tidak diketahui orang. Selama hidup Ibnu Bajah mendalam ilmu alam, ilmu matematika, ilmu astronomi, dan musik.
Beberapa hasil karya Ibnu Bajah adalah sbb :
a. Filsafat al-Wada, berisi tentang ilmu pengobatan
b. Tardiyyan berisi tentang syair pujian
c. Kitab An-Nafs berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa arab
d. Tadbir Al-Mutawahhid, rezim satu orang
e. Risalah-risalah Ibnu Bajah yang berisi tentang penjelasan atas risalah-risalah Al-Farabi dalam masalah Logika
f. Karya-karya yang disunting oleh asin Palacis dengan tejemahan bahasa spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan :
1. Kitab al-Nabat, al-Andalus jilid V 1940
2. Risalah ittishal al-Aql bil insan, al-Andalus jilid VII, 1942
3. Risalah al-Wada, al-Andalus, jilid VIII, 1943
4. Tadbir al-Mutawahhid, dengan judul el-Regimen del solitairo, 1946
g. Majalah al-Majama’ al-Ilm al-Arabi
Dan pemikiran-pemikiran Ibnu Bajah Antara lain :
- Epistimologi
- Metaisika
- Moral
- Jiwa
- Politik
- Tasawuf
E. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, Di sini kami hanya berusaha menjelaskan pengetahuan sejauh yang kami. miliki. Kami menyadari akan banyaknya kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Dan kami tidak menutup kemungkinan untuk menerima saran; dan kritik yang bersifat membangun dari anda semua. Demi kesempurnaan makalah-makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Amiiiinnnnn
DAFTAR PUSTAKA
- Prof. Drs. H. Hasbulah Bakry S.H, Disekitar Filsafat Skolatik Islam, Jakarta : PT.Tintamas Indonesia, 1984
- Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1995
- A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung : CV.Pustaka Setia, 2007
- Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001
- Sudarsono, Filsafat Islam, Jakarta : PT.Rineka Cipta, 1997
[1]Prof. Drs. H. Hasbulah Bakry S.H, Disekitar Filsafat Skolatik Islam, (Jakarta : PT.Tintamas Indonesia, 1984)
[2]Dr. Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1995)
[3]A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung : CV.Pustaka Setia, 2007)
[4]Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001)
[5]Ibid, A . Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung : CV.Pustaka Setia, 2007)
[6]Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta : PT.Rineka Cipta, 1997)\
[7]Ibid, Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta : Gaya Media Pratama, 2001)
[8]Ibid, A . Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung : CV.Pustaka Setia, 2007)
0 comments:
Post a Comment